Capaian Pembelajaran Sejarah SMA/MA/Paket C Kurikulum Merdeka Kurikulum Merdeka Unduh Di Sini

Capaian Pembelajaran Sejarah SMA/MA/Paket C Kurikulum Merdeka Kurikulum Merdeka Unduh Di Sini

paket-wisatabromo.com-Selamat berjumpa lagi, salam sehat selalu. Artikel kali ini masih merupakan lanjutan dari pembahasan mengenai capaian pembelajaran. Artikel ini tentang capaian pembelajaran Sejarah SMK/MAK/Paket C Kurikulum Merdeka. Tentu saja masih dalam lingkup Kurikulum Merdeka yang mulai diberlakukan pada tahun 2021/2022 secara terbatas.

Capaian Pembelajaran Sejarah SMK/MAK/Paket C Kurikulum Merdeka ini tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, riset, dan Teknologi.

Keputusan tersebut bernomor 008/H/KR/2022. Isinya adalah Capaian pembelajaran pada pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka.

Capaian Pembelajaran Sejarah 

Rasional

Rasional Mata Pelajaran Sejarah SMA/MA/Program Paket C Indonesia adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Negeri lautan dengan taburan pulau-pulau di atasnya. Perpaduan lautan dan daratan dengan berbagai ragam potensi yang ada di dalamnya menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara Kepulauan

(archipelago) terbesar di dunia. Secara fisik Kepulauan Indonesia memiliki 1.904.569 km² luas wilayah, 18.108 jumlah pulau, 81.000 km² garis pantai, dan 2,7 juta luas perairan atau 70% dari luas wilayah Indonesia yang membentang dari 6⁰ 08’ LU – 11⁰ 15’ LS dan 94⁰ 45’ BT – 141⁰ 05’ BT.

Sedangkan secara kebudayaan, Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri atas 1.331 suku bangsa, 652 bahasa daerah, 6 agama, dan 187 kelompok penghayat kepercayaan.

Indonesia diapit oleh Benua Asia dan Australia serta Samudera Hindia dan Pasifik, sehingga secara geografis Indonesia menempati lokasi strategis dalam jalur lalu lintas masyarakat dunia.

Sudah sejak lama Indonesia menjadi tempat persinggahan berbagai bangsa, mulai dari India, Arab, Cina, dan Eropa dengan masing-masing membawa ragam budaya dari tanah asalnya, serta berinteraksi dengan ragam budaya asli Indonesia.

Proses ini melahirkan berbagai bentuk budaya baru yang bercampur dalam balutan kearifan lokal, kemudian membentuk model Indonesia dengan karakteristik Indonesia dan citarasa Indonesia.

Selain itu posisi Indonesia sebagai pusat persemaian dan penyerbukan silang budaya ikut melahirkan kultur masyarakat yang inklusif, plural, serta mampu mengembangkan berbagai corak kebudayaan yang lebih banyak dibandingkan dengan kawasan dunia manapun.

Pemahaman dan kesadaran mengenai keindonesiaan wajib diketahui oleh segenap bangsa Indonesia, pertanyaan dari mana kita berasal, bagaimana keadaan kita sekarang, dan kedepan mau berjalan kearah mana adalah berbagai pertanyaan menyangkut eksistensi kita sebagai bangsa atau bahkan manusia pada umumnya.

Kita juga harus menyadari bahwa bangsa ini lahir bukan dari persamaan suku, ras, budaya, atau agama, melainkan karena adanya kesadaran serta kesepakatan untuk hidup bersama dalam sebuah bangsa yaitu Indonesia.

Kesadaran dan kesepakatan bersama ini diikat oleh fakta bahwa kita berangkat dari sejarah yang sama.

Berbagai peristiwa penting yang terjadi di Indonesia mulai dari asal usul nenek moyang dan jalur rempah, masa Kerajaan Hindu-Buddha, masa Kerajaan Islam, masa penjajahan Bangsa Eropa, masa

Pergerakan Kebangsaan Indonesia, masa Pendudukan Jepang, masa Proklamasi Kemerdekaan, masa usaha mempertahankan kemerdekaan, masa pemerintahan Demokrasi Liberal dan Demokrasi

Terpimpin, masa Pemerintahan Orde Baru, sampai masa Pemerintahan Reformasi adalah sebuah perjalanan panjang melintasi ruang dan waktu, dimana banyak terkandung pelajaran di dalamnya.

Perjalanan sejarah Indonesia juga dipengaruhi oleh berbagai peristiwa yang terjadi di dunia.

Revolusi Besar Dunia, Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Dingin, dan Peristiwa Kontemporer Dunia sampai

Abad-21 adalah diantara peristiwa dunia yang berpengaruh secara langsung atau tidak langsung dengan Indonesia.

Transformasi pengetahuan atas masa lalu untuk dikontekstualisasikan dalam kehidupan kekinian, dan sebagai bahan proyeksi untuk masa depan, sebagai upaya memperkuat jati diri manusia dalam dimensi lokal, nasional, dan global hanya mungkin dilakukan melalui mata pelajaran Sejarah.

Dari sisi pengetahuan konten teknologi pembelajaran (pedagogical content technology knowledge) guru sejarah dalam mengajarkan sejarah harus utuh dan komprehensif.

Laksana orang menenun, sejarah harus disampaikan memanjang jalur atas-bawah dan melebar jalur kiri-kanan, artinya berbagai pendekatan diakronis (kronologis) maupun sinkronis dapat digunakan untuk menjelaskan sebuah peristiwa sejarah secara utuh.

Begitu juga dengan muatan-muatan lain dalam sejarah perlu diajarkan secara multidimensional, misalnya jika selama ini mempelajari sejarah lebih ditekankan kepada muatan politik atau militer, maka sekarang ini kita dapat juga mengangkat muatan lokal, muatan sosial, muatan Hak Asasi Manusia (HAM), muatan feminis, muatan maritim, muatan agraris, muatan teknologi, muatan lingkungan, muatan mitigasi, muatan kesehatan, muatan fashion, muatan kuliner, dan lain sebagainya secara terintegrasi dalam satu narasi sejarah.

Penjelasan sejarah yang utuh dan komprehensif dari berbagai pendekatan, serta dengan memasukan berbagai muatan sejarah dan melibatkan ilmu-ilmu bantu lain, kemudian dikombinasikan dengan penggunaan ragam model atau media pembelajaran inovatif berbasis teknologi, niscaya akan membuat pembelajaran sejarah menjadi semakin kaya, berbobot, dan bermakna bagi kehidupan anak bangsa.

Peran guru sejarah dibutuhkan untuk membangun jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan merangsang kebatinan serta nalar peserta didik melalui keterampilan imajinatif, kreatif, kritis, dan reflektif yang bersandar pada sumber-sumber autentik.

Dari sini kita semakin menjadi yakin bahwa belajar sejarah sesungguhnya adalah belajar berpikir.

Selain itu belajar sejarah jangan sampai hanya sebatas lambang pemujaan masa lalu, dimana generasi muda hanya dapat terpesona atau menjadi penikmat dari masa lalu yang gemilang, tanpa pernah berpikir untuk merencanakan bangunan masa depan mereka sendiri.

Secara progresif pembelajaran sejarah harus mampu mengkontekstualisasikan berbagai peristiwa yang terjadi di masa lalu dengan berbagai peristiwa yang dialami sekarang, untuk kita dapat saling merenungi, mengevaluasi, membandingkan, atau mengambil keputusan, sekaligus sebagai orientasi untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.

Muara dari pembelajaran sejarah yang berorientasi pada keterampilan berpikir secara alamiah akan mendorong pembentukan manusia merdeka yang memiliki kesadaran sejarah dan selaras dengan Profil Pelajar Pancasila.

Tujuan Belajar Sejarah

Mata pelajaran Sejarah bertujuan untuk:

1. Menumbuhkembangkan kesadaran sejarah;

2. Menumbuhkembangkan pemahaman tentang diri sendiri;

3. Menumbuhkembangkan pemahaman kolektif sebagai bangsa;

4. Menumbuhkembangkan rasa bangga atas kegemilangan masa lalu;

5. Menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dan patriotisme;

6. Menumbuhkembangkan nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan lingkungan hidup;

7.  Menumbuhkembangkan nilai-nilai kebhinekaan dan gotong royong;

8. Menumbuhkembangkan pemahaman tentang dimensi manusia, yaitu kemampuan menganalisis pemikiran, suasana kebatinan, tindakan, maupun karya yang memiliki makna dalam sejarah;

9. Menumbuhkembangkan pemahaman tentang dimensi ruang, yaitu kemampuan menganalisis hubungan atau keterkaitan antara peristiwa yang terjadi secara lokal, nasional, serta global;

10. Menumbuhkembangkan pemahaman tentang waktu, yaitu kemampuan melihat peristiwa secara utuh meliputi dimensi masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, serta menganalisis perkembangan, kesinambungan, pengulangan, dan perubahan dalam kehidupan manusia;

11. Melatih kecakapan berpikir diakronis (kronologi), sinkronis, kausalitas, imajinatif, kreatif, kritis, reflektif, kontekstual, dan multiperspektif;

12. Melatih keterampilan mencari sumber (heuristik), kritik dan seleksi sumber (verifikasi), analisis dan sintesis sumber (interpretasi), dan penulisan sejarah (historiografi);

13. Melatih keterampilan mengolah informasi sejarah secara non digital maupun digital dalam berbagai bentuk aplikasi sejarah, rekaman suara, film dokumenter, foto, maket, vlog, story board, timeline, infografis, videografis, komik, poster, dan lain-lain;

Karakteristik Mata Pelajaran Sejarah

Karakteristik mata pelajaran sejarah terikat oleh dimensi manusia, ruang, dan waktu.

Dimensi manusia dilihat sebagai agen yang menciptakan sejarah, secara individu ataupun kolektif, dengan melihat dimensi pemikiran, mental kebatinan, rekam jejak atau karya yang menjadi latar belakang manusia tersebut.

Lalu dimensi ruang dilihat dari tempat terjadinya sebuah peristiwa, dalam lingkup lokal, nasional, dan global, dengan menarik hubungan antara satu peristiwa di satu tempat, dengan peristiwa di tempat lainnya.

Kemudian dimensi waktu dilihat secara kontekstual melewati masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, dengan memperhatikan pola perkembangan, perubahan, keberlanjutan, atau keberulangan dari sebuah peristiwa.

Dari sisi substansi, mata pelajaran sejarah berisikan berbagai peristiwa penting yang terjadi di Indonesia dalam lingkup lokal dan nasional, mulai dari asal usul nenek moyang dan jalur rempah, masaKerajaan Hindu-Buddha, masa Kerajaan Islam, masa penjajahan Bangsa Eropa, masa Pergerakan Kebangsaan Indonesia, masa Pendudukan Jepang, masa Proklamasi Kemerdekaan, masa usaha mempertahankan kemerdekaan, masa pemerintahan Demokrasi Liberal dan Terpimpin, masa pemerintahan Orde Baru, sampai masa pemerintahan Reformasi.

Mata pelajaran Sejarah juga mencakup berbagai peristiwa global yang memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dengan Indonesia.

Peristiwa global ini berbentuk muatan materi yang terintegrasi dalam perjalanan sejarah di Indonesia seperti pembentukan paham keindonesiaan yang dikaitkan dengan revolusi besar dunia, pergerakan kebangsaan dengan Perang Dunia I,

Proklamasi kemerdekaan dengan Perang Dunia II, usaha mempertahankan kemerdekaan dengan Perang Dingin, serta masa reformasi dengan peristiwa kontemporer dunia sampai abad-21

Secara pendekatan, mata pelajaran sejarah dapat dikaji dengan menggunakan berbagai pendekatan khas sejarah seperti diakronis (kronologi) maupun sinkronis.

Mata pelajaran sejarah juga memberikan pengalaman belajar saintifik yang diperoleh melalui tahapan mencari sumber (heuristik), kritik dan seleksi sumber (verifikasi), analisis dan sintesis sumber (interpretasi), sampai mengambil kesimpulan dan refleksi yang dituliskan secara historiografi.

1. Lingkup materi dalam mata pelajaran sejarah, yaitu:

a. Pengantar Ilmu Sejarah

b. Asal-Usul Nenek Moyang dan Jalur Rempah di Indonesia

c. Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia

d. Kerajaan Islam di Indonesia

e. Kolonisasi dan Perlawanan Bangsa Indonesia

f. Pergerakan Kebangsaan Indonesia

g. Pendudukan Jepang di Indonesia

h. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

i. Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

j. Pemerintahan Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin

k. Pemerintahan Orde Baru

l. Pemerintahan Reformasi

2. Lingkup Strands Kecakapan dalam mata pelajaran Sejarah, meliputi:

a. Keterampilan Konsep Sejarah (Historical Conceptual Skills)

b. Keterampilan Berpikir Sejarah(Historical Thinking Skills)

c. Kesadaran Sejarah (Historical Consciousness)

d. Penelitian Sejarah (Historical Research)

e. Keterampilan Praktis Sejarah (Historical Practice Skills)

Dari uraian di atas, maka mata pelajaran Sejarah meliputi elemen sebagai berikut:

Elemen
Deskripsi
Keterampilan Konsep Kelas X

Keterampilan Konsep Sejarah (Historical Conceptual Skills) berhubungan dengan konsepkonsep dasar ilmu sejarah, seperti manusia, ruang, waktu, diakronik (kronologi), sinkronik, historiografi, maupun konsep-konsep lain yang berhubungan dengan peristiwa sejarah seperti kolonialisme, imperialisme, pergerakan nasional, proklamasi, orde lama, orde baru, reformasi, dan lain-lain.

Selain itu, keterampilan konsep diperoleh melalui pemahaman akan sebuah konsep, baik dalam dalam lingkup ilmu sejarah maupun lingkup ilmu lain yang memiliki relevansi dengan pembahasan sebuah peristiwa.

Peserta didik tidak hanya sekedar tahu dan hafal tentang definisi konsep, tetapi juga harus tahu bagaimana menggunakan konsep sebagai bahan analisis untuk mengkaji sebuah peristiwa.

Pemahaman konsep dibutuhkan untuk memperoleh penjelasan secara lebih luas dan bermakna tentang sebuah peristiwa.

Keterampilan Proses Sejarah Kelas X

1

1. Mengamati: Peserta didik melakukan kegiatan yang dilaksanakan secara sengaja dan terencana dengan maksud untuk mendapat informasi dari hasil pengamatan.

Pengamatan dapat dilakukan langsung atau menggunakan instrumen lain.

2. Menanya: Peserta didik menyusun pertanyaan tentang hal-hal yang ingin diketahuinya dan masalah apa yang ditemukan.

Pada tahap ini ia juga menghubungkan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari sehingga dapat menjelaskan permasalahan yang sedang diselidiki dengan rumus 5W 1H (apa, siapa, kapan,  di mana, mengapa, dan bagaimana), dan memperkirakan apa yang akan terjadi berdasarkan jawaban atas pertanyaan.

3. Mengumpulkan Informasi: Peserta didik menyusun langkah-langkah untuk mengumpulkan informasi melalui studi pustaka, studi dokumen, wawancara, observasi, kuesioner, dan teknik pengumpulan informasi lainnya.

4. Mengorganisasikan Informasi: Peserta didik memilih, mengolah dan menganalisis informasi yang diperoleh. Proses analisis informasi dilakukan dengan cara verifikasi, interpretasi, dan triangulasi informasi.

5. Menarik Kesimpulan: Peserta didik menjawab, mengukur dan mendeskripsikan serta menjelaskan permasalahan yang ada dengan memenuhi prosedur dan tahapan yang ditetapkan.

6. Mengomunikasikan: Peserta didik mengungkapkan seluruh hasil tahapan di atas secara lisan dan tulisan dalam bentuk media digital dan non-digital.

Peserta didik lalu mengomunikasikan hasil temuannya dengan mempublikasikan hasil laporan dalam bentuk presentasi digital dan/atau non digital.

7. Merefleksikan dan Merencanakan Proyek Lanjutan Secara Kolaboratif: Peserta didik mampu mengevaluasi pengalaman belajar yang telah dilalui dan diharapkan dapat merencanakan projek lanjutan dengan melibatkan lintas mata pelajaran secara kolaboratif.

Keterampilan Proses1
1. Keterampilan Berpikir Sejarah (Historical Thinking Skills):

Peserta didik mampu berpikir diakronis (kronologi); a. berpikir sinkronis;

b. berpikir kausalitas;

c. berpikir interpretasi;

d. berpikir kritis; berpikir kreatif;

e. berpikir kontekstual;

f. berpikir imajinatif;

g. berpikir multiperspektif;

h. berpikir reflektif.

2. Kesadaran Sejarah (Historical Consciousness): Peserta didik mampu memahami dan menganalisis fakta sejarah; menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan; memaknai nilai-nilai masa lalu.

3. Penelitian Sejarah (Historical Research): Peserta didik mampu menentukan topik; mengumpulkan sumber (heuristik); mengritik dan menyeleksi sumber (verifikasi); menganalisis dan mensintesis sumber (interpretasi); menuliskan sejarah (historiografi).

4. Keterampilan Praktis Sejarah (Historical Practice Skills): Peserta didik mampu membaca buku teks, buku referensi, internet, dokumen sejarah, dan hasil wawancara; menuliskan cerita sejarah; menuturkan cerita sejarah; mengolah informasi sejarah non digital atau digital dalam berbagai bentuk aplikasi sejarah, rekaman suara, film dokumenter, foto, maket, vlog, timeline, story board, infografis, videografis, komik, poster, dan lain-lain.

Capaian Pembelajaran Sejarah Setiap Fase
1. Fase E (Umumnya Kelas X SMA/MA/Program Paket C)

Pada akhir Fase E, peserta didik mampu memahami konsep-konsep dasar manusia, ruang, waktu, diakronis (kronologi), sinkronis, guna sejarah, sejarah dan teori sosial, metode penelitian sejarah, serta sejarah lokal.

Melalui literasi, diskusi, kunjungan langsung ke tempat bersejarah, dan penelitian berbasis proyek kolaboratif peserta didik mampu menganalisis serta mengevaluasi berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di Indonesia meliputi konsep asal-usul nenek moyang dan jalur rempah di Indonesia, kerajaan Hindu-Buddha, dan kerajaan Islam di Indonesia.

Pada akhir Fase E, peserta didik mampu menggunakan sumber primer atau sekunder untuk melakukan penelitian sejarah lokal yang memiliki benang merah dengan keindonesiaan baik langsung ataupun tidak langsung, secara diakronis dan/atau sinkronis kemudian mengomunikasikannya dalam bentuk lisan, tulisan, dan/atau media lain.

Selain itu mereka juga mampu menggunakan berbagai keterampilan sejarah untuk menjelaskan peristiwa sejarah serta memaknai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Capaian Pembelajaran Sejarah SMK/MAK/Paket C Kurikulum Merdeka selengkapnya dapat dibaca atau diunduh pada tautan berikut ini.

Unduh

Baca Juga

1. Capaian Pembelajaran Pendidikan Pancasila-Unduh

2. Capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka  Jenjang PAUD hingga SMA SMK-Unduh

3. Capaian Pembelajaran Jenjang PAUD Pada Kurikulum Merdeka-Unduh

4. Capaian Pembelajaran  pada SMK MAK Berdasarkan Kurikulum Merdeka-Unduh

5. Capaian Pembelajaran  Matematika Berdasarkan Kurikulum Merdeka-Unduh

6. Capaian Pembelajaran  Agama Islam dan Budi Pekerti Kurikulum Merdeka-Unduh

7. Capaian Pembelajaran IPA SMP/MTs/Program Paket B Kurikulum Merdeka- Unduh

8. Capaian Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam  IPAS-Unduh

9. Capaian Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial IPS  SMP/MTs/Program Paket B Kurikulum Merdeka-Unduh

10. Capaian Pembelajaran SLB Kurikulum Merdeka-Unduh

Demikianlah informasi mengenai capaian pembelajaran Sejarah Kurikulum Merdeka. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.