Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

paket-wisatabromo.com – Salah satu destinasi wisata alam di Kota Ungaran yang terkenal dengan udaranya yang sejuk adalah Curug Semirang. Lokasinya yang cukup tersembunyi membuat curug ini masih perawan, alami dan sangat segar bahkan fresh. Publik belum banyak yang tahu.

A. Lokasi

Curug Semirang atau yang biasa dikenal dengan Air Terjun Semirang merupakan salah satu tempat wisata alam yang terletak di lereng Gunung Ungaran bagian utara, tepatnya di Dusun Gintungan, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Alamat Wana Wisata Curug Semirang berada di Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Berjarak sekitar 22 km dari pusat Kota Semarang dan membutuhkan waktu perjalanan sekitar 40 menit. Buka setiap hari pada pukul 08.00-17.00. Tiket masuk per orang Rp10.000.

Keberadaan di Desa Gogik, Ungaran, mungkin ini yang membuat air terjun ini jarang terjamah oleh manusia. Akses menuju lokasi harus berkendaraan pribadi karena tidak ditemukannya kendaraan umum untuk mencapai tempat ini.

Anda dianjurkan mengendarai sepeda motor untuk menuju lokasi air terjun, karena jalan yang bisa ditempuh dengan kendaraan cukup terjal.

Rute perjalanan ke sana dapat dimulai dari pertigaan Hotel Ungaran Cantik di jalan raya konvensional Semarang-Solo. Jika dari arah Semarang, masuk ke kanan melewati STIKES Ngudi Waluyo, kemudian ikuti jalan lurus hingga menemukan papan petunjuk arah menuju Curug Semirang.

Jika dari arah Solo atau Yogyakarta, di pertigaan Hotel Ungaran Cantik di jalan raya konvensional masuk ke arah kiri melewati STIKES Ngudi Waluyo, kemudian ikuti jalan lurus hingga menemukan papan petunjuk arah menuju Curug Semirang.

Perjalanan selanjutnya dapat dilakukan dengan mengikuti papan petunjuk, hingga mencapai gerbang Curug Semirang. Perlu Anda ketahui, setelah melewati gerbang Anda hanya dapat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

B. Keistimewaan

1. Air Terjun Semirang

Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng
Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

Air terjun yang menyuguhkan kesegaran tiada tara ini masih belum banyak terekspos ke dunia luar. Bagi Anda yang ingin menikmati rahasia yang tersembunyi ini, berkunjunglah ke Curug Semirang yang masih perawan ini.

Curug Semirang adalah sebuah air terjun yang ada di tengah hutan di atas bukit. Untuk mencapai Curug Semirang, kita harus mendaki bukit yang kurang lebih sejauh 900 meter, tapi cukup melelahkan juga mendakinya. Campuran antara jalan dengan anak tangga dan jalanan miring.

Namun, Di sini, Anda akan disuguhkan dengan pemandangan cantik dari Air Terjun Semirang. Menariknya, konon jika beruntung Anda dapat melihat kupu-kupu lima warna!

Di sana ada kupu-kupu lima warna, kalau beruntung kamu bisa lihat“. Wow! Kupu-kupu lima warna? Menarik juga.

Air terjun Semirang atau yang biasa dikenal dengan Curug Semirang ini merupakan salah satu tempat wisata alam di kabupaten Semarang. Terletak di lereng Gunung Ungaran bagian utara dengan memiliki ketinggian terjunan air setnggi 45 meter.

Wisata air terjun di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ini dikelola oleh Perum Perhutani dan memiliki lahan seluas 10 Ha. Lebih tepatnya Curug Semirang ini berada di Dusun Gintungan, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.

Jadi bagi Anda yang menginginkan tempat liburan di Semarang dengan suasana hawa sejuk pegunungan. Diiringi pemandangan yang indah, Wisata Air Terjun Semirang merupakan tempat yang cocok untuk mengisi suasana liburan bersama keluarga maupun sahabat-sahabat terdekat Anda.

Air terjun yang menyuguhkan kesegaran tiada tara ini masih belum banyak terekspos ke dunia luar. Bagi Anda yang ingin menikmati rahasia yang tersembunyi ini, berkunjunglah ke Curug Semirang!

Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

2. Kolam Renang Cantik

Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng
Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

Ingin berenang di bawah rimbunan pepohonan? Datang saja ke Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Di sini ada kolam renang cantik di tengah hutan pinus. Berada di kaki Gunung Ungaran, suasana di sekitar kolam renang begitu sejuk dan hijau.

Kolam renang bernama Curug Semirang ini menjadi destinasi wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Kolam renang ini termasuk spot baru di lokasi wisata Curug Semirang.

untuk menuju lokasi kolam renang, pengunjung tak perlu berjalan jauh dan melewati tanjakan terjal. Cukup berjalan kaki sekitar lima menit dari lokasi parkir.

Keunikannya, kolam renang alami ini berasal air pegunungan segar dan memantulkan warna hijau. Kolam alam ini terbuat dari batu dengan pemandangan kebun pala.

Air di kolam ini berwarna hijau, beda dari kolam renang pada umumnya yang rata-rata bernuansa kebiruan. Airnya dijamin aman karena tidak terdapat campuran klorin atau zat penjernih air.

3. Hutan Pinus

Di awal perjalanan, Anda akan menemukan pohon-pohon tinggi layaknya latar film di luar negeri. Kekayaan alam akan terasa semakin memukau saat Anda semakin masuk ke dalam. Aliran air yang sesekali diseberangi dalam perjalanan terlihat masih jernih dan murni.

Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

C. Asal-Usul

Menurut cerita, penamaan curug tercipta akibat suatu peristiwa yang telah terjadi di tempat tersebut. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya dalam cerita Legenda Curug Semirang.

Alkisah, pada zaman dahulu, tinggallah seorang pendeta dengan kedua muridnya. Mereka tinggal di sebelah timur lereng Gunung Ungaran. Sang pendeta bernama Resi Ajar sedangkan kedua muridnya bernama Sraya dan Sari. Pada suatu malam, dipanggillah Sraya dan Sari untuk datang menghadap sang Resi.

“Ngger Sraya dan Sari, tahukah kalian mengapa kupanggil kemari?” tanya sang Resi kepada keduanya.

“Ada hal penting yang akan kusampaikan,” kata sang Resi perlahan.

“Aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk berdarmabakti kepada sesama. Oleh karena itu, sebelum aku pergi, aku ingin kalian menikah agar keberlangsungan padepokan ini tetap terjaga,” lanjut sang Resi.

Sraya dan Sari hanya bisa saling berpandangan mendengar permintaan sang Resi. Mereka tidak berani membantah permintaan sang Resi. Malam itu juga, keduanya hanya bisa pasrah ketika dinikahkan oleh Resi Ajar. Sebelum sang Resi pergi, ia menyampaikan pesan kepada keduanya.

“Dengarkan baik-baik, sepeninggalku kelak, ketika bulan purnama, berangkatlah Engkau, Sraya, ke arah barat dari tempat ini. Carilah bunga Kalakecika dan Lanceng Putih. Teguhkan tekadmu meskipun harus melalui berbagai rintangan. Jika Kau berhasil meraihnya, niscaya Kau akan memeroleh kehidupan yang lebih baik,” demikian pesan yang diucapkan sang Resi.

“Baiklah Resi, Saya berjanji akan melaksanakan perintah Resi,“ sahut Sraya dengan kepala yang masih tertunduk.

Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

“Selain itu, Sraya. Aku juga menitipkan Sari kepadamu. Hiduplah kalian sebagai pasangan suami-istri. Sejatinya, Sari merupakan putriku sendiri bersama Lokandi,” penjelasan Resi Ajar terhenti. Pikirannya melayang kepada bayangan Lokandi, mendiang istri yang sangat dicintainya.

Mendengar pernyataan Resi Ajar, Sari tidak kuasa membendung perasaannya. Sontak ia pun memeluk sang Resi sekaligus ayah kandungnya itu. Namun sayang, seketika itu pulalah Resi Ajar moksa.

Sepeninggal Resi Ajar, mereka berdua hidup rukun sebagai suami istri. Setiap hari, suami istri itu bahu-membahu merawat padepokan peninggalan Resi Ajar. Suatu ketika, setelah pulang dari berburu, Sraya menemukan Sari diam termenung di beranda padepokan.

“Sari, tampaknya Engkau sedang memikirkan sesuatu?” ujar Sraya.

“Iya, Kakang. Kakang tentunya masih mengingat pesan Ayahanda tentang Kalakecika dan Lanceng Putih?” kata Sari seraya memandang ke arah suaminya.

“Iya, aku selalu ingat. Aku berjanji melaksanakan perintah guru. Namun, sampai sekarang, belum kutunaikan juga. Aku masih belum tega meninggalkanmu seorang diri.  Akan tetapi, kita harus mematuhi perintah guru yang sekaligus Ayahanda kita. Baiklah, Sari, aku merasa inilah waktu yang tepat jika aku harus pergi. Ketika malam bulan purnama tiba, aku akan segera berangkat. Jaga dirimu baik-baik, ya,” kata Sraya.

Malam bulan purnama pun tiba, Sraya berpamitan kepada istrinya dengan perasaan berat hati. Sraya segera menuju ke arah barat, seperti yang telah diperintahkan sang Resi. Sraya menyusuri lembah demi lembah. Ia berjalan tidak kenal lelah.

Menjelang matahari terbit, sampailah Sraya di suatu tempat yang sangat sepi. Ia berhenti karena di depannya menjulang sebuah tebing yang tinggi. Mulailah Sraya mencoba mendaki tebing itu dari sebelah utara dengan susah payah.

Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

Malam harinya, sampailah Sraya di puncak bukit. Ia bersemedi untuk mendapatkan petunjuk tentang sesuatu yang sedang dicari. Dalam semedinya, ia seolah berada di alam kehidupan yang lain. Ada seekor kera berkepala anjing menyerangnya dengan ganas. Sraya berusaha mengelak dan melakukan perlawanan.

Berkat ilmu yang didapatkan dari sang Pendeta, binatang aneh itu dapat dikalahkan. Bersamaan dengan peristiwa itu, Sraya seperti mendengar suara petunjuk gaib yang memberitahukan keberadaan Kalakecika di sebuah air terjun. Adapun Lanceng Putih harus dicari ke arah timur di sebuah air terjun yang lain pula. Seketika itu, Sraya tersadar dari semadinya.

Selanjutnya, Sraya menuju ke arah timur, berhari-hari, berminggu-minggu. Bahkan, berbulan-bulan, ia berjalan melalui berbagai rintangan. Suatu siang, Sraya sampai di suatu lembah yang cukup landai, terdengarlah suara gemericik air. Ia pun menuju ke arah suara air itu.

Tidak lama kemudian, terlihatlah air terjun yang tinggi dari suatu tebing. Berdasarkan petunjuk gaib yang diterima, Sraya menuju tengah tebing itu dengan hati-hati. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan Lanceng Putih yang masih ada di sarangnya. Sraya melanjutkan perjalanan melalui bukit lain ke arah timur.

Sementara Sraya sedang dalam pengembaraannya, Sari masih setia menunggu kedatangan suaminya di padepokan. Hingga pada suatu malam, Sari didatangi jin Barok yang menyamar menjadi manusia. Kedatangan jin Barok itu bermaksud meminang Sari atas perintah rajanya.

“Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku sudah bersuami,” ujar Sari tegas.

Mendengar penolakan Sari, jin Barok tidak mau menyerah begitu saja. Ia tidak mau pulang tanpa membawa hasil. Barok berusaha memaksa Sari untuk ikut bersamanya.

Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

Namun, Sari tetap menolak dan berusaha melawan. Sari berusaha meloloskan diri. Barok pun terus mengejarnya. Hingga sampailah Sari di sebuah lereng bukit yang terputus dari lereng bukit yang lainnya.

Terdesak oleh keadaan ini, Sari melepaskan kendit yang melilit perutnya kemudian melemparkan ke lereng bukit seberang. Seketika itu juga, kendit milik Sari berubah menjadi jembatan yang dapat menghubungkan kedua bukit sehingga Sari dapat selamat sampai ke seberang. Sari terus berlari menyelamatkan diri. Namun malang, kain jarik yang dikenakan Sari, berhasil diraih oleh Barok. Kain jarik itu terlepas dari tubuh Sari dan ia pun terjatuh.

Sari segera beringsut dari tempat itu. Tanpa mempedulikan kain jarik yang sudah terlepas dari tubuhnya, ia segera mengambil langkah seribu. Namun malang, Sari terjerumus ke sebuah lembah air terjun sehingga tubuhnya tidak terlihat oleh Barok. Barok pun kehilangan jejak dan mengamuk sejadi-jadinya. Ia merusak apapun yang menghalangi jalannya.

Sementara itu, tampak dari arah kejauhan, Barok melihat sosok laki-laki sedang berjalan ke arahnya. Orang itu tidak lain adalah Sraya. Jin itu lantas melampiaskan kemarahannya kepada Sraya. Keduanya terlibat perkelahian sengit.

Namun, pada akhirnya perkelahian itu dimenangi Sraya karena ia memiliki ilmu yang jauh lebih hebat. Sraya kemudian berjalan menuju ke lembah air terjun. Sesampainya di tempat tujuan, ia terkejut melihat sosok perempuan yang berendam dalam sendang sedang menangis. Wajahnya ditutupi dengan kedua telapak tangannya.

“Maaf, siapakah Kau? Mengapa Kau bisa berada di tempat ini?” tanya Sraya dengan wajah penuh keheranan.

Sari pun terkejut mendengar suara yang begitu dikenalnya. Perlahan-lahan, ia membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Wajah cantik perempuan itu mulai terlihat. Jantung Sraya berdegup kencang.

“Oh, Sari. Kaukah itu? Mengapa Kau berada di sini? Apakah yang terjadi?” ujar Sraya.

“Betul, Kakang. Ini aku, Sari,” jawab perempuan itu.

Ini Masih Perawan Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng

Sraya segera mengambil pakaian yang ada di buntel miliknya. Ia mendekat ke arah Sari dan memberikan pakaian tersebut. Sembari memakai pakaian itu, Sari menceritakan peristiwa yang dialami.

“Sungguh, Kanda tidak menyangka, kita dipertemukan di tempat ini. Sekarang marilah kita bersemadi, memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan bunga Kalakacika,” kata Sraya.

Setelah beberapa waktu mereka bersemadi, keduanya berhasil mendapatkan bunga Kalakacika. Konon, bunga itu berisi belalang. Apabila bunga itu mekar maka berloncatanlah binatang itu ke air terjun. Kalakacika mengandung makna ‘masa yang indah akan datang, jika penghalang (disimbolkan dengan belalang) itu pergi’.

Sampai sekarang, air terjun tempat ditemukannya bunga Kalakacika terkenal dengan nama “Semirang”, berasal dari kata wirang yang berarti ‘malu’ karena Sari sampai ke tempat tersebut dalam keadaan terlepas kain jariknya.

Adapun jembatan yang berasal dari kendit milik Sari dikenal dengan nama “Banjaran Simbar”. Lokasi pertemuan antara utusan jin (Barok) dengan Sraya hingga sekarang disebut “Sentana Layu”, yaitu dari kata sentana yang berarti ‘utusan’ dan mlayu yang berarti ‘lari’, artinya ‘seorang utusan yang lari (mlayu)’.

Baca Juga:

Demikian pembahasan mengenai Wana Wisata Curug Semirang Ungaran Semarang Jateng. Semoga bermanfaat dan menjadi alternatif pilihan wisata alam Anda pada weekend ini. Selamat merefreshkan diri.

Referensi: dari Berbagai sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *