Buku Singkatan dan Akronim dalam Media Massa Cetak dan Elektronik

Buku Singkatan dan Akronim dalam Media Massa Cetak dan Elektronik

paket-wisatabromo.com- Balai Bahasa Jawa Barat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan buku singkatan dan akronim dalam media massa cetak dan elektronik.

Buku singkatan dan akronim dalam media massa cetak dan elektronik. ditulis oleh Umi Kulsum, M.Hum. dkk. dengan tebal buku  mencapai 308 halaman. Penerbitnya adalah Balai Bahasa Jawa Barat.

Buku Singkatan dan Akronim dalam Media Massa Cetak dan Elektronik

Akronimisasi adalah pembentukan sebuah kata dengan cara menyingkat sebuah konsep yang direalisasikan dalam sebuah konstruksi/kata.

Proses ini menghasilkan sebuah kata yang disebut akronim. Sebetulnya data akronim merupakan sebuah singkatan yang “diperlakukan” sebagai sebuah kata atau sebuah butir leksikal (Chaer, 2008:236).

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempumakan (1997:19—21) menyatakan bahwa akronim adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis atau dilafalkan atau diucapkan sebagaimana kata, contohnya kata rudal.

Rudal merupakan akronim dari peluru kendali. Singkatan biasanya dibedakan dari akronim dalam hal pelafalan.

Singkatan berupa gabungan huruf yang tidak dilafalkan. Pengucapan singkatan ialah dengan cara dieja huruf demi hiunf, contohnya DPR dan KKN.

Singkatan dan akronim sangat sering kita dengar atau kita gunakan.

Akronim merupakan salah satu unsur bahasa yang senantiasa berkembang dalam semua bidang kegiatan dan keilmuan, seperti kemiliteran, olahraga, ekonomi, dan kesenian.

Tidak heran jika sebuah akronim biasanya hanya dipahami oleh mereka yang berkecimpung dalam bidang kegiatan tertentu, misalnya dupak (daftar usulan perhitungan angka kredit) yang mungkin hanya dipahami oleh orangorang tertentu.

Namun, tidak sedikit alaonim bahasa Indonesia yang telah menjadi kata umum, misalnya muntaber, wagub, pemda, lemhanas hansip, dirjen.

Kadang kala, orang lebih mengenal akronimnya daripada bentuk data panjangnya, misalnya tilang (bukti pelanggaran) batagor (baso tahu goreng), togel (toto gelap), cekal (cegah dan tangkal), dan Laswi (Laskar Wanita Indonesia).

Maraknya singkatan dan akronim dapat menimbulkan dampak positif dan negatif dalam sebuah bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Dampak positifhya ialah munculnya kosakata bam yang dapat menambah khazanah perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia dan memudahkan pemakai bahasa dalam mengingat suatu nama.

Dampak negatif pada akronim, ialah adanya:

(1) akronim yang sulit untuk dipolakan, contohnya disdik (dinas pendidikan) dan pilkada (pemilihan kepala daerah);

(2) akronim yang dapat menimbulkan keambiguan, contohnya bupati yang dapat berarti sebuah jabatan atau dapat juga mempakan a^onim dari buka paha tinggi-tinggi;

(3) pemakaian akronim yang tidak diberikan dahulu bentuk panjangnya padahal tidak semua orang memahaminya sehingga sebuah kalimat sulit untuk dipahami.

Struktur buku

Buku ini merupakan hasil penelitian. Jadi, struktur buku juga menunjukkan kerangka penelitian yang telah dilakukan.

Buku ini terdiri atas empat bab.  Sajian daftar isi, kata pengantar, daftar pola, mengawali tampilan buku ini.

Selanjutnya penyajian bab demi bab. Bab 1 berupa pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan, kerangka teori, ruang lingkup, bobot dan relevansi, asumsi dan hipotesis, metode dan teknik, serta sumber data.

Bab 2 buku ini berisi kajian teori. Kajian teori yang disajikan terdiri atas abreviasi dalam proses morfologis, singkatan dan akronim sebagai hasil abreviasi, singkatan, dan akronim.

Selain itu, kajian teori yang disajikan adalah pola-pola pembentukan  singkatan dan akronim. Pola-pola yang disjaikan antara lain menurut Chaer, tasai, Notosusanto, Kridalaksana, dan menurut EYD.

Sajian teori lainnya adalah Homonimi dan Sinonimi,  Pola Fonotaktik Bahasa Indonesia.

kajian teori lainnya adalah Media Komunikasi yang terdiri atas
Media Massa Elektronik dan Media Massa Cetak.

Pada Bab III buku ini disajikan mengenai hasil dan pembahasan. Bab ini menguraikan  Singkatan dan Akronim pada Tabloid atau media cetak. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan singkatan dan akronim pada media elektonik.

Sedangkan pada bab IV, buku ini menyajikan simpulan dan saran. Simpulannya disajikan antara lain sebagai berikut.

Tabloid Data yang berhasil dikumpulkan dari tabloid bequmlah 1.240 dengan perincian 443 berupa akronim dan 797 berupa singkatan.

Pada kenyataannya penentuan antara singkatan dan akronim tidak semudah yang diperkirakan walaupun pembeda dari para ahli bahasa sudah jelas, terutama akronim yang dibentuk dengan pola 10 (pola humf awal).

Sebagian besar singkatan berpola (1) huruf awal setiap kata (pola 10) dan pola singkatan yang berasal dari satu kata (dibentuk dengan konsonan).

Pola Barn yang belum diungkap para ahli bahasa sebelumnya ialah singkatan yang dibentuk dengan perpaduan kata dan huruf.

Singkatan dan akronim digunakan pada semua bidang dan kadar kebakuan dalam singkatan lebih tinggi jika dibandingkan dengan akronim, banyak akronim yang digunakan dalam ragam nonformal.

sedangkan saran yang diberikan adalah Walaupun sumber data telah dibatasi, yaitu hanya pada media cetak dan media elektronik dengan pembatasan tahun, yaitu 2008-Juni 2009, cukup banyak data yang diperoleh, sedangkan waktu terbatas.

Banyak aspek yang belum terbahas atau belum tuntas dikaji, terutama aspek dampak akronim dan sebab-sebab timbulnya akronim.

Jadi, dipandang perlu untuk dilihat lagi singkatan dan akronim ini, yaitu aspek yang belum dikaji dan juga untuk melihat perkembangan akronim dan singkatan pada masa yang akan datang.

Struktur buku paling akhir adalah daftar pustaka. Daftar pustaka yang digunakan dalam buku hasil penelitian ini berupa buku, internet, dan hasil-hasil penelitian.

Isi Buku

Buku singkatan dan akronim dalam media massa cetak dan elektronik ini memaparkan singkatan dan akronim dalam media massa cetak (tabloid, surat kabar, dan majalah) dan media elektronik (televisi).

Untuk  tabloid, data yang berhasil dikumpulkan dari tabloid berjumlah 1.240 dengan perincian 443 berupa akronim dan 797 berupa singkatan.

Adapun untuk surat kabar, dapat dinyatakan pola atau sistem pengkatoniman dalam bahasa Indonesia yang terdapat di dalam media massa cetak Jawa Barat belum memiliki keajekan atau konsistensi kaidah.

Baca: Kalimat Efektif : Pengertian, Ciri, dan Contohnya yang Tepat

Untuk majalah, pembentukan singkatan dan akronim lebih banyak dibentuk oleh faktor pragmatik daripada faktor fonologis.

Terakhir untuk media elektronik televisi, dari 132 data yang dikumpulkan, terdapat 78 akronim dan 66 singkatan.

Buku terbitan Balai Bahasa Jawa Barat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016 ini dapat diunduh pada tautan berikut ini.

Buku Singkatan dan Akronim dalam Media Massa Cetak dan Elektronik
Buku Singkatan dan Akronim dalam Media Massa Cetak dan Elektronik

SINGKATAN DAN AKRONIM DALAM MEDIA MASSA CETAK DAN MEDIA ELEKTRONIK (unduh)

Demikian pembahasan mengenai buku singkatan dan akronim dalam media massa cetak dan elektronik. semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.