Kaidah Kebahasaan Teks Fabel yang Efektif dan Tepat

Kaidah Kebahasaan Teks Fabel yang Efektif dan Tepat

paket-wisatabromo.com – Jenis teks fiksi yang harus dipelajari di kelas VII adalah teks cerita rakyat. Salah satu diantaranya adalah menelaah kaidah kebahasaan teks fabel atau legenda.

Sehubungan dengan jenis teks cerita fabel, peserta didik kelas VII dituntut untuk mampu menguasai aspek pengetahuan dan aspek keterampilan.

Untuk aspek pengetahuan, peserta didik kelas VII diminta agar dapat menguasai kompetensi 3.15 dan 3.16.

Untuk kompetensi 3.15 adalah mengidentifikasi informasi fabel/legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar

Sedangkan kompetensi 3.16 adalah menelaah struktur dan kebahasaan fabel/legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar.

Aspek keterampilan yang harus dikuasai kelas VII adalah kompetensi 4.15 dan 4.16. Kompetensi dasar 4.15 adalah menceritakan kembali isi cerita fabel/legenda daerah setempat yang dibaca/didengar. Dan 4.16 yakni memerankan isi fabel/legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar.

Pada kesempatan kali ini, akan dibahas mengenai aspek pengetahuan berkaitan dengan bagian komptensi dasar nomor 3.16. Komptensi itu adalah adalah menelaah kebahasaan fabel/legenda daerah setempat yang dibaca dan didengar.

Kaidah Kebahasaan Teks Fabel yang Efektif

1. Menggunakan kata sandang, seperti si, sang pada jenis cerita fabel.

Kata sandang ‘si’ dan ‘sang’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Penggunaan kata si menimbulkan kesan akrab dan pujian, ataupun bernada negatif seperti kurang hormat, menunjuk seseorang yang telah melakukan sesuatu/ terkena kasus, merendahkan diri, dan panggilan ejekan.

Misalnya, “Oh, si Natan. Dia memang sudah pintar dari SMA,” jelas Anin. Atau pada kalimat: Ternyata si penipu itu masih berani datang ke rumah.

Penggunaan kata sang bisa dipakai di depan nama benda yang dianggap hidup, dihormati, dibanggakan, dan dimuliakan. Bisa juga menimbulkan kesan mengolok-olok.

Misalnya, Pagi itu, semua peserta upacara begitu khusyuk menyaksikan sang Merah Putih berkibar. Atau pada kalimat: “Ini dia, sang Ratu Ngaret … Julia!” teriak seseorang dari belakang Julia.

Contoh penggunaan si dan sang

Si Pengki tengah menyapu di halaman rumahnya.

Icil si kancil berhasil menipu kawanan buaya yang hendak menerkamnya.

Lati si bunga melati tengah dikerumuni oleh kawanan lebah.

Senja hari karya Sang Pencipta pun kini telah tiba.

Sang kancil berhasil menipu kawanan buaya yang hendak memangsanya.

Dan Sang guru besar Ilmu Bahasa itu kini telah tiada.

Sang surya pun kini telah terbit dari peraduannya.

“Jangan, jangan aku. Badanku kecil. Engkau tidak akan kenyang. Sebentar lagi kakakku yang lebih besar tubuhnya akan lewat. Tunggulah!”Si Bungsu dibiarkan lewat oleh buaya.

2. Menggunakan sudut pandang tokoh ketiga

Biasanya ditandai dengan pengguaan kata ganti ia, dia, mereka, dan nama tokoh. Pencerita (juru dongeng) tidak terlibat dalam cerita yang disampaikannya.

Di sebuah padang rumput ada tiga ekor biri-biri bersaudara. Karena musim kemarau padang rumput mulai mengering. Ketiga biri-biri itu bingung dan mulai merasa kuatir. Badannya mulai menjadi kurus karena kurang makan. Akhirnya, mereka berunding untuk pindah ke tempat lainnya. Si Sulung mengusulkan agar mereka pindah ke padang rumput lainnya, tetapi mereka harus menyeberangi sungai yang ada titian di atasnya.

3. Menggunakan dialog.

Dialog adalah percakapan antar tokoh. Contoh dialog antara tokoh anjing tua dengan anjing berlonceng.

Seekor anak anjing bertanya, “Mengapa kamu selalu berlari ke sana-kemari dengan loncengmu?”

“Ya, aku bangga pada lonceng di leherku. Tidak setiap anjing punya lonceng sepertiku.”

Pada suatu ketika anjing tua berkata kepada anjing berlonceng, “Mengapa kamu selalu memamerkan diri dengan loncengmu?”

“Ya, karena tidak setiap anjing memiliki lonceng sepertiku”

“Sebenarnya kamu harus malu pada loncengmu. Lonceng itu tidak patut kamu banggakan. Bahkan, itu aib. Sebenarnya majikanmu memberi lonceng itu agar orang berhati-hati dengan kehadiranmu. Lonceng itu adalah pemberitahuan kepada semua orang agar hati-hati dan waspada akan kedatanganmu karena kamu anjing yang tak tahu aturan dan sering menggigit tumit orang,” kata anjing tua.

4. Menggunakan kata-kata yang menggambarkan keadaan atau sifat tokohnya, seperti bingung, lapar, kurus, buas, licik, sombong.

Ketiga biri-biri itu bingung dan mulai merasa kuatir. Badannya mulai menjadi kurus karena kurang makan. Akhirnya, mereka berunding untuk pindah ke tempat lainnya. Si Sulung mengusulkan agar mereka pindah ke padang rumput lainnya, tetapi mereka harus menyeberangi sungai yang ada titian di atasnya.

5. Menggunakan kata-kata yang menyatakan urutan waktu, seperti pada suatu ketika, pada zaman dahulu, kemudian, akhirnya.

Pada suatu hari, mereka keluar untuk bermain di atas bebatuan tempat mereka tinggal. Mereka berlompatan dengan riangnya. Kemudian, salah seekor dari tikus-tikus itu melompat tinggi. Ia terjatuh, jauh dari tempatnya melompat tadi. Ternyata ia terjatuh tepat di atas kepala Singa yang sedang tidur lelap.

Di pinggir sungai, terdapat seekor buaya yang sedang kelaparan. Sudah tiga hari Buaya itu belum makan dan perutnya terasa keroncongan. Hari ini, ia harus mendapat mangsa karena kalau tidak, ia bisa mati kelaparan. Buaya itu segera masuk ke dalam sungai dan berenang perlahan-lahan untuk mencari mangsa.

Tak lama kemudian, Buaya melihat seekor bebek yang juga sedang berenang di sungai. Bebek sadar kalau dia sedang diawasi oleh Buaya. Bebek segera berenang ke tepi sungai. Melihat mangsanya akan kabur, Buaya segera mengejar dan akhirnya Bebek pun tertangkap.

6. Menggunakan kata kerja tindakan, seperti mengembara, menggigit, menerjang, melompat, memangsa, memanjat, dll.

Singa terbangun kaget. Ia kemudian berdiri. Wajahnya teramat marah. Mulutnya menganga, memperlihatkan gigi-giginya yang tajam menakutkan. Terdengarlah aumannya yang sangat keras. Tikus-tikus tadi tersentak kaget. Mereka berlarian ke dalam bebatuan tempat mereka tinggal. Sementara Tikus yang terjatuh ke muka Singa tadi terkesima dan diam tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.

Artikel terkait”
7. Menggunakan kata keterangan latar untuk menjelaskan di mana cerita atau kejadian tersebut berlangsung.
Di hutan, hiduplah seekor singa yang dijuluki Si Raja Hutan. Dijuluki demikian karena ia besar dan sangat kuat. Ia menjadi pemimpin seluruh binatang yang ada di hutan tersebut.

Demikianlah pembahasan mengenai Kaidah Kebahasaan Teks Fabel yang Efektif dan Tepat Semoga bermanfaat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *