Menulis Pantun Perhatikan Empat Hal Perlu Dicoba Pasti Jitu dan Menarik 

Menulis Pantun Perhatikan Empat Hal Perlu Dicoba Pasti Jitu dan Menarik 

paket-wisatabromo.com- Menulis pantun perhatikan empat hal perlu dicoba pasti jitu dan menarik merupakan judul artikel kali ini.

Di dalamnya berisi materi pelajaran bagi peserta didik SMP MTs kelas 7 semester 2 yakni tentang menulis pantun.

Berdasarkan Kurikulum 2013, artikel menulis pantun perhatikan empat hal perlu dicoba pasti jitu dan menarik ini berisi materi pelajaran yang tergolong ke dalam aspek keterampilan.

Keterampilan adalah kemampuan atau kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan.

Dapat juga dikatakan bahwa keterampilan itu merupakan kemampuan dasar pada diri manusia yang harus dilatih, diasah, serta dikembangkan secara terus menerus sehingga menjadi terampil.

Dari sisi pengetahuan bahasa, judul menulis pantun perhatikan empat hal perlu dicoba pasti jitu dan menarik berisi materi pelajaran yang  tergolong ke dalam aspek berbahasa yang produktif.

Keterampilan berbahasa ada empat aspek, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Menyimak dan membaca merupakan aspek reseptif, sementara berbicara dan menulis merupakan aspek produktif.

Dalam aktivitas berbicara, si pengirim pesan mengirimkan pesan dengan menggunakan bahasa lisan

Sedangkan dalam aktivitas menulis, si penulis  dapat memunculkan aspek berbahasa produktif melalui kemampuan untuk melahirkan ide atau gagasan secara tulis.

Peserta didik SMP MTs kelas 7 semester 2 diharapkan dapat menguasai materi ini.

Pada umumnya, penguasaan terhadap suatu materi itu ditandai dengan perolehan nilai minimal mencapai KKM.

Untuk membantu peserta didik SMP MTs kelas 7 semester 2 ini, pada kesempatan yang baik ini akan dibahas mengenai menulis pantun perhatikan empat hal perlu dicoba pasti jitu dan menarik . Semoga bisa dimanfaatkan untuk bahan belajar, ya.

Menulis Pantun Perhatikan Empat Hal Perlu Dicoba Pasti Jitu dan Menarik

Untuk menulis pantun, hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut.

1. Membuat topik atau tema

Tema dalam penulisan pantun merupakan hal yang sangat penting

Hal ini karena dengan tema pantun-pantun yang dibuat oleh peserta didik akan lebih terarah kepada sesuatu maksud yang diharapkan.

Jika menggunakan tema yang sempit kita akui memang sedikit mengekang kreativitas peserta didik dalam menulis pantun.

Oleh karena itu, pendidik harus lebih bijaksana dalam memilih tema yang mengandung atau mencakup berbagai permasalahan keseharian.

Tema yang cocok diberikan misalnya saja berkaitan dengan masalah politik, sosial budaya, percintaan, dan kehidupan keluarga.

Misalnya, tema tentang sosial budaya dengan mengambil topik soal kebersihan kota atau masalah sampah. Hal pertama yang harus dilakukan ialah membuat isinya terlebih dahulu.

2. Membuat isinya

Untuk membuat isi pantun harus diingat bahwa pantun terdiri atas empat baris.

Dua baris pertama sampiran dan dua baris berikutnya ialah isi. Jadi, soal sampiran tersebut dapat disusun dalam dua baris kalimat, yang setiap baris kalimatnya terdiri atas empat perkataan dan berkisar antara 8 sampai 12 suku kata.

Jika dibuatkan kalimat biasa boleh jadi kalimatnya cukup panjang, misalnya:

”Di kota yang semakin ramai dan berkembang ini, ternyata mempunyai masalah lain yang sangat terkait dengan masalah kesehatan warganya, yaitu sampah yang berserakan di mana-mana dan seterusnya.

Pengertian dari kalimat di atas mungkin bisa lebih panjang, tetapi hal tersebut dapat diringkas dalam dua baris kalimat isi sebagai berikut.

Jika sampah dibiarkan berserak,

penyakit diundang, masalah datang.

Di sinilah kelebihan pantun, dapat meringkas kalimat yang panjang tanpa harus kehilangan makna atau arti sebuah kalimat yang ditulis panjang-panjang.

Jika isi pantun sudah didapatkan langkah selanjutnya ialah membuat sampirannya.

3. Membuat sampiran

Walau kata kedua dari suku akhir baris isi pertama dan kedua diberi tanda tebal.

Namun, jangan hal itu yang menjadi perhatian, tapi justru yang harus diperhatikan ialah pada suku akhir dari kata keempat baris pertama dan kedua, yaitu rak dan tang, sebab yang hendak dicari ialah sajaknya atau persamaan bunyi.

Sebuah pantun yang baik, suku akhir kata kedua sampiran pertama bersajak dengan suku akhir kata kedua dari isi yang pertama.

Apalagi suku akhir kata keempat dari sampiran pertama seharusnya bersajak dengan suku akhir kata keempat isi pertama.

Karena di sinilah nilai persajakan dalam pantun itu yaitu baris pertama sama dengan baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat.

Namun, kalau dibuat sekaligus, takut terlalu sulit menyusunnya. Memang tidak sedikit kata-kata yang bersuku akhir pah, misalnya pelepah, sampah, nipah, terompah, dan sebagainya.

Begitupun suku kata yang akhirannya dang, misalnya udang, sedang, ladang, kandang, bidang, tendang, dan sebagainya.

Kalaupun sulit untuk mencari kata yang bersuku akhir pah, masih ada jalan lain yaitu dengan membuang

huruf p nya, dan mengambil ah nya saja. Begitupun dengan dang, buang huruf d nya, sehingga yang tertinggal hanya ang nya.

Namun, jangan sampai dibuang [a]-nya juga, sehingga hanya tinggal [ng]-nya saja karena hal tersebut dapat menghilangkan sajaknya.

Begitupun untuk suku akhir dari kata rak dan tang yang menjadi tujuan.

Kata yang bersuku akhir rak dan tang dalam kosa kata bahasa Indonesia cukup banyak, misalnya untuk suku kata rak, yaitu kerak, jarak, marak, serak, gerak, merak, arak, dan sebagainya.

Sedangkan untuk kata tang, yaitu hutang, pantang, batang, petang, lantang, dan sebagainya.

Sekarang baru membuat sampiran pertama dan kedua dengan mencari kalimat yang suku akhir kata keempatnya adalah rak dan tang.

Misalnya:

Cantik sungguh si burung merak, terbang rendah di waktu petang.

Kemudian antara sampiran dan isi baru disatukan menjadi;

Cantik sungguh si burung merak,

terbang rendah di waktu petang.

Jika sampah dibiarkan berserak,

penyakit diundang, masalah datang.

Jika menginginkan suku akhir kata kedua baris pertama dengan suku akhir kata kedua dari baris ketiga bersajak juga.

Begitupun dengan suku akhir kata kedua baris kedua dengan suku akhir kata kedua baris keempat bersajak agar terlihat lebih indah bunyinya, maka sampirannya harus diubah, menjadi;

Daun nipah jangan diarak,

bawa ke ladang di waktu petang.

Jika sampah dibiarkan berserak,

penyakit diundang, masalah datang.

Demikian halnya jika membuat pantun teka-teki. Misalnya membuat teka-teki tentang parut, salah satu alat dapur yang berfungsi untuk memarut kelapa guna diambil santannya.

Jika diperhatikan dengan teliti ada keanehan mengenai cara kerja parut.

Hal inilah yang dapat mengilhami kepada semua orang untuk membuat teka-teki, yaitu mata parut yang sedemikian banyak itu, cukup tajam.

Daging kelapa yang sudah disediakan, dirapatkan ke mata parut, lalu digerakkkan dari atas ke bawah sambil ditekan.

Dari pergerakan itu semua, seperti layaknya orang menyapu, dapat dilihat, daging kelapa itu tertinggal diantara mata parut.

Ada terus. Semakin gerakan menyapu dilakukan, dagimg kelapa itu semakin banyak dimata-mata parut.

Logikanya, orang menyapu tentu lantai akan menjadi bersih, tetapi sebaliknya sangat berbeda dengan bidang bangun parut.

Semakin disapu, semakin kotor karena banyaknya daging kelapa yang menyangkut di mata parut.

Dari sini dapat dibuatkan inti pantunnya, yaitu Semakin disapu, semakin kotor.

Tugas selanjutnya ialah membuat sampiran. Untuk membuat sampiran, boleh membuat yang sederhana.

Misalnya hanya untuk mencari persamaan bunyi (bersajak) tanpa mengindahkan makna atau arti atau keterkaitan dengan isi seolah satu kesatuan kalimat yang saling mendukung.

Jika ingin membuat sampiran yang sederhana, hal yang dilakukan ialah mencari kosa kata yang bersuku akhir tor atau paling tidak or.

Misalnya kantor, setor, dan motor. Jika sudah mendapatkan kosa kata untuk membuat akhiran pantun yang sesuai dengan kata kotor, langkah selanjutnya ialah menentukan letak inti pertanyaannya.

Apakah diletakkan dibaris ketiga atau baris keempat. Jika diletakkan pada baris ketiga, kalimat baris keempat dapat dibuat sebagai berikut: apakah itu, cobalah terka. Sehingga hasilnya menjadi:

Semakin disapu, semakin kotor, Apakah itu, cobalah terka.

Sekarang barulah mencari sampirannya. Suku akhir tor atau or dari kata kotor dapat diambil salah satu saja.

Misalnya kata kantor, kemudian tinggal mencari suku kata yang berakhir ka dari kata terka, yang merupakan kata terakhir dari baris terakhir.

Untuk kata yang bersuku akhir “ka”, dalam kosa kata bahasa Indonesia cukup banyak, misalnya bingka, ketika, sangka, nangka, tapka, angka, dan luka.

Misalnya diambil kata bingka. Sekarang kata kantor dan bingka baru dijadikan sampiran, menjadi:
pagi-pagi pergi ke kantor, singgah ke warung beli bingka.

Kemudian antara sampiran dan isi baru disatukan, hasilnya menjadi:

pagi-pagi pergi ke kantor,

singgah ke warung beli bingka.

Semakin disapu, semakin kotor,

Apakah itu, cobalah terka.

Jadilah pantun teka-teki. Dan jawaban pantun teka-teki itu, tentulah parutan kelapa.

Jika inti pertanyaan diletakkan pada baris keempat, kalimat baris ketiga sebagai berikut:

Jika pandai kenapa bodoh. Sehingga hasilnya menjadi : Jika pandai kenapa bodoh, Semakin disapu, semakin kotor.

Langkah selanjutnya ialah membuat sampirannya agar lengkap menjadi sebait pantun.

Suku akhir kata kantor yang bersajak dengan kata kotor dapat digunakan lagi, sekarang tinggal mencari suku akhir doh, yang akan bersajak dengan kata bodoh.

Misalnya kata jodoh sehingga jika dibuatkan sampirannya, menjadi: Ramai-ramai mencari jodoh, mencari jodoh sampai ke kantor.

Langkah terakhir baru disatukan antara isi dan sampirannya sehingga menjadi:

Ramai-ramai mencari jodoh,

mencari jodoh sampai ke kantor.

Jika pandai kenapa bodoh,

Semakin disapu, semakin kotor.

Jawaban dari pantun teka-teki tersebut tentunya ialah parutan kelapa.

Jika diperhatikan sampirannya dari keempat contoh pantun di atas, memang terasa kurang kuat dan terkesan memaksakan kata-kata hanya untuk mencari persamaan bunyi sehingga kalimat sampirannya tidak mempunyai keutuhan arti.

Namun, hal ini tidak dianggap salah hanya mutunya dianggap kurang.

Akan tetapi, jika dilihat dari pantun-pantun pusaka yang ada, bahwa tidak semua pantun pusaka tersebut dikatakan sempurna atau tinggi mutunya.

Terkadang ada yang ada barisnya tidak terdiri atas empat perkataan tetapi hanya tiga perkataan atau ada lima perkataan.

Baca:

Selain itu, juga masih banyak pantun yang betul-betul hanya mengutamakan persamaan bunyi, padahal tidak bersajak.

Seperti kata lintah dengan cinta pada pantun berikut ini.

Dari mana datangnya Lintah, dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati.

Sepintas lalu terdengar sama-sama berakhiran ta, tapi jika diamati benar barulah terasa bedanya antara bunyi tah dengan ta itu yang satu terdengar lebih tebal atau kental dan yang satu terasa ringan.

4. Hitunglah jumlah suku kata setiap barisnya.

Pantun memiliki ciri setiap baris terdiri dari 8 sampai 12 suku kata. Apabila belum mencapai sedikitnya 8 suku kata, maka harus menambah suku kata/kata yang tepat dalam baristersebut.

Contoh:

Buah manggis rasanya manis (9 suku kata)

Dibelah dua putih isinya (10 suku kata)

Anak sekolah jangan menangis (10 suku kata)

Kalau menangis merah matanya (10 suku kata)

Demikianlah sajian artikel berjudul menulis pantun perhatikan empat hal perlu dicoba pasti jitu dan menarik. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.