Kaidah Kebahasaan Cerita Fantasi yang Tepat dan Contoh Analisisnya

Kaidah Kebahasaan Cerita Fantasi yang Tepat dan Contoh Analisisnya

paket-wisatabromo.com – Kaidah kebahasaan Cerita Fantasi merupakan bagian materi dari kompetensi dasar menelaah sturktur dan kaidah kebahasaan teks cerita fantasi. Untuk struktur teks cerita fantasi telah dibahas pada artikel sebelumnya. Pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai kaidah kebahasaan teks cerita fantasi.

Kaidah kebahasaan dalam suatu teks memiliki peran yang cukup penting. Salah satunya adalah memperindah isi cerita. Sebagus apaun suatu cerita, jika disajikan dalam bahasa yang kurang tepat tidak akan menimbulkan kesan keindahan. Begitu juga dalam teks cerita fantasi, kaidah kebahasaan cerita fantasi harus mendapat perhatian yang baik.

Kaidah Kebahasaan Cerita Fantasi

Berikut ini dijaikan kaidah kebahasaan cerita fantasi. Diantaranya adalah:

1. Kata Ganti dan Nama Tokoh.

Di dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBI) dijelaskan mengenai kata ganti.

Kata ganti di dalam Bahasa Indonesia ada tiga macam, yakni kata ganti orang pertama, kedua, dan ketiga. Pengertian Kata ganti orang pertama adalah kata ganti orang yang mengajak berbicara. Orang yang diajak berbicara merupakan kata ganti orang kedua. Sedangkan orang yang dibicarakan adalah kata ganti orang ketiga.

Di dalam Bahasa Indonesia, kata ganti baik orang pertama, kedua, dan ketia dikenal jenisnya tunggal dan jamak. Tunggal jika jumlahnya hanya satu, jamak jika jumlahnya banyak atau lebij dari satu.

Contoh kata ganti orang pertama tunggal antara lain: saya, aku, daku, dan jamaknya adalah kita, dan kami. Orang kedua tunggal contohnya kamu, anda, kau, dan jamaknya adalah kalian, kamu sekalian. Sedangkan kata ganti orang ketiga tunggal adalah ia, dia, beliau, dan jamaknya adalah mereka.

Perlu diketahui bahwa tidak semua jenis kata ganti yang ada dapat memperindah dan menimbulkan kesan bagus karena penggunaan kata ganti disesuaikan dengan konteksnya. Untuk cerita fantasi, lebih tepat menggunakan kata ganti seperti: aku, ia, dia, kalian, mereka. Kata ganti tersebut lebih memberi kesan keindahan dalam cerita fantasi.

Selain menggunakan kata ganti, di dalam cerita fantasi juga digunakan nama tokoh untuk memanggil atau menyapa tokoh lainnya.

2. Kata Konotasi

Konotasi adalah makna emosional yang bersifat subjektif dan melekat pada suatu kata atau frasa. Sementara itu, makna eksplisit dan harfiah dari suatu kata atau frasa disebut denotasi.

Konotasi dapat berbentuk positif maupun negatif. Contoh konotasi positif dalam bahasa Indonesia adalah “lubuk hati” yang berarti “perasaan”, sementara contoh konotasi negatif adalah “kambing hitam” yang bermakna “orang yang disalahkan.”

Contoh: Monster itu berkaki empat. Langkah seribunya penuh dengan keberanian.  Semakin mendekat semakin melawan. (Langkah seribu artinya berlari).

3. Kata Khusus

Kata khusus ialah kata-kata yang ruang lingkup dan cakupan maknanya lebih sempit atau disebut juga dengan hiponim.

Contoh: melirik, memelototi, menengok kata khusus dari kata melihat. singgah, mampir, berkunjung kata khusus dari kata mendatangi. menghuni, bersarang khusus dari kata menetap. apel, anggur, salak, semangka khusus dari kata buah. mawar, melati, anggrek khusus dari kata bunga jati, beringin, akasia khusus dari kata pohon.

4. Citraan: penglihatan, pendengaran, perabaan, perasaan.

Tiga pohon berjajar rapih berdiri dengan kokoh. Sayap-sayap burung yang mulai mengepak, menggoyangkan daun-daun dalam dahan. Hembusan angin yang tak biasa. Mengemparkan kota Zaitun di sore ini (Citraan penglihatan).

Air mata pun jatuh di pipi Pangeran Xin. Sepucuk surat dari Sang Nenek menjadi saksi kepiluannya. Tawa canda pangeran sirna. (citraan perasaan).

Pagi hari seperti biasa para agent mempersiapkan diri. Matahari bersinar terang membawa hawa semangat. Kokok jago bersautan menyambut hari telah dating (Citraan pendengaran).

5. Kata sambung penanda urutan waktu

Kata sambung urutan waktu itu, sementara itu, bersamaan dengan itu, tiba-tiba, ketika, sebelum, dan sebagainya. Penggunaan kata sambung uruan waktu untuk menandakan datangnya tokoh lain atau perubahan latar, baik latar suasana, waktu, dan tempat.

Sebelum Alien itu dating, langit mendung

Tiga tahun yang lalu, gunung itu memuntahkan lahar dingin

Akhirnya, Raja Zahab berkuasa kembali di kerajaan Saturnus.

6.Penggunaan kata/ungkapan keterkejutan.

Penggunaan kata/ungkapan keterkejutan berfungsi untuk menggerakan cerita (memulai masalah).

a.Tiba-tiba pesawat tempur melepaskan tembakan petamanya.

b.Di tengah pesta, datanglah pereman-pereman itu.

c.Tanpa kuduga, Cermin Ajaib berpindah tempat.

7. Penggunaan dialog/kalimat langsung dalam cerita.

Contoh: “Berlarilah Natakoo! Monster itu mengejarmu.” teriak ninja Kusuke dengan kecemasan. Natakoo pun berlari sekuat tenaganya.

Artikel terkait

Contoh analisis kaidah kebahasaan dalam cerita fantasi “Berlian-Tiga-Warna”

Anika menemukan tiga kotak berwarna ungu, biru, dan kuning di kamar ibunya. Kata ibunya jika ada tiga sahabat yang menyukai warna seperti pada kotak itu akan mendapatkan petualangan indah dan sekaligus mendapatkan berlian itu.

Tapi waktu yang diberikan untuk berpetualang hanya satu jam. Anika menyukai warna ungu. Tamika, teman dekat Anika, menyukai warna biru. Dan Chika menyukai warna kuning. “Saya ingin mencoba petualangan indah itu Bu. Saya punya sahabat yang menyukai warna itu,” Anika meyakinkan ibunya. Dengan kesepakatan ketiga sahabat itu berkumpul di rumah Anika.

Minggu pukul 6 mereka semua masuk ke kamar Anika yang serba Biru. Di kamar Anika serasa ada di langit. “Ayo kita buka kotak masing-masing sesuai dengan warna kesukaan. Sekarang kita buka satu… dua… tiga!!!” “WAWWWWW,” lima detik kemudian mereka terlempar di gerbang sebuah kerajaan. Mereka terkejut karena di hadapannya berdiri seorang ratu yang seluruh tubuhnya dihiasi berlian.

“Selamat datang di negeri kami, peramal kerajaan mengatakan bahwa akan datang tiga anak yang akan menyelamatkan putri kami. Saya mempunyai anak yang bernama Candy. Ia tertidur sejak dua tahun yang lalu dikarenakan ia memakai tiga kalung berlian sekaligus,”

Setetes air mata pun jatuh dari wajah Sang Ratu. “Tolong selamatkan puteriku,” “Ta…ta…tapi…” Cika dan Tamika memprotes bersamaan karena mereka berdua membayangkan akan bersenang-senang dalam petualangannya.

“Cika, Tamika ayo kita tolong Puteri, mereka sedang menghadapi masalah,” Anika mantap menjawab sambil menarik dengan paksa kedua tangan sahabatnya yang masih ragu.

“Itu puteri Candy,” Anika berlari menuju puteri tempat tidur Candy. Dengan ragu Tamika dan Cika ikut mendekat. “Ayo kita ambil sesuai warna!” Anika menjelaskan. “Baik!” Jawab

Tamika dan Cika serempak. Setelah itu… “Hoooaaii…” Putri Candy menguap. Pelan-pelan matanya terbuka. “Oh! Terima kasih! Terima kasih! Sebagai hadiahnya ambil ini!” Ratu memeluk ketiga gadis itu lalu memberikan tas yang lumayan besar.

“Terimalah ini sebagai sebagai ungkapan terima kasih kami,” Ratu berucap penuh haru. Dengan cepat Tamika dan Chika menyahut tas yang diberikan Ratu. Tapi mereka berdua tidak kuat mengangkat tas besar itu.

“Waktu kita tinggal 15 menit lagi kita harus segera pergi,” Anika berteriak. “Tapi tas berisi berlian ini tidak bisa kita bawa,” kata Tamika dan Chika hampir bersamaan. “Tinggalkan saja tas itu yang penting kita harus keluar dari kerajaan ini,” tegas Anita.

Anika menarik kedua tangan sahabatnya untuk menyatukan ketiga kotak berlian tiga warna. Dan buuumm…! Mereka terlempar kembali ke atas tempat tidur Anika. “Gagal total petualangan kita karena kita meninggalkan satu tas besar isi berlian itu,” Tamika berteriak ke arah Anika.

“Kamu menyia-nyiakan rejeki yang ada di depan kita,” Chika menimpali dengan keras. Anika dengan tenang memegang kedua tangan sahabatnya. “Kita tidak gagal dan kita tidak sia-sia. Kita telah berhasil menolong orang dan menyelamatkan diri kita sendiri.

Untuk apa setumpuk berlian tapi riwayat kita tamat?” Anika menggenggam erat tangan sahabatnya. Tamika dan Chika menyambut erat genggaman tangan Anika. Ketiga sahabat itu saling merangkul.

Analisis kaidah Bahasa dalam cerita fantasi tersebut antara lain:

1. Kata ganti dan nama tokoh

Mereka terkejut karena di hadapannya berdiri seorang ratu yang seluruh tubuhnya dihiasi berlian.

“Kamu menyia-nyiakan rejeki yang ada di depan kita,” Chika menimpali dengan keras.

2. Kata konotasi

“Cika, Tamika ayo kita tolong Puteri, mereka sedang menghadapi masalah,” Anika mantap menjawab sambil menarik dengan paksa kedua tangan sahabatnya yang masih ragu (konotasi halus).

3. Kata Khusus

Anika menemukan tiga kotak berwarna ungu, biru, dan kuning di kamar ibunya.

4. Citraan

Setetes air mata pun jatuh dari wajah Sang Ratu. “Tolong selamatkan puteriku,” (citraan penglihatan).

Dan buuumm…! Mereka terlempar kembali ke atas tempat tidur Anika (citraan pendengaran).

“Waktu kita tinggal 15 menit lagi kita harus segera pergi,” Anika berteriak (citraan pendengaran)

5. Kata sambung penanda waktu

Setelah itu… “Hoooaaii…” Putri Candy menguap

6. Ungkapan keterkejutan

Sekarang kita buka satu… dua… tiga!!!” “WAWWWWW,” lima detik kemudian mereka terlempar di gerbang sebuah kerajaan.

7. Dialog

“Itu puteri Candy,” Anika berlari menuju puteri tempat tidur Candy. Dengan ragu Tamika dan Cika ikut mendekat. “Ayo kita ambil sesuai warna!” Anika menjelaskan. “Baik!” Jawab

Tamika dan Cika serempak. Setelah itu… “Hoooaaii…” Putri Candy menguap. Pelan-pelan matanya terbuka. “Oh! Terima kasih! Terima kasih! Sebagai hadiahnya ambil ini!”

Demikianlah pembahasan mengenai Kaidah Kebahasaan Cerita Fantasi yang Tepat dan Contoh Analisisnya. Semoga bermanfaat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *