Contoh Apresiasi Puisi Berdasarkan Struktur Fisik dan Batin Yang Tepat

Contoh Apresiasi Puisi Berdasarkan Struktur Fisik dan Batin Yang Tepat

paket-wisatabromo.com- Pada kesempatan kali ini akan disajikan mengenai contoh apresiasi puisi berdasarkan struktur fisik dan batin yang tepat.

Seorang peserta didik dapat dikatakan mampu mengapresiasi puisi ditandai oleh kemampuan menganalisis struktur fisik dan batin puisi.

Materi yang berkaitan dengan struktur fisik dan batin puisi sudah dibahas pada artikel sebelumnya. Baca: Contoh-Contoh Analisis Struktur Batin Puisi yang Tepat

Kemampuan menganalisis struktur fisik dan batin puisi akan lebih mudah dilakukan jika kita mempelajari contoh Apresiasi puisi.

Contoh Apresisai Puisi Berdasarkan Struktur Fisik dan Batin Yang Tepat

Karangan Bunga

Taufiq Ismail

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-malu

Datang ke Salemba

Sore ituni dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi kakak yang ditembak matiSiang tadi

Baca : Cara Menulis Puisi dengan Teknik Tepat dan Mudah Dilakukan

Struktur fisik puisi terdiri diksi, imajinasi, kata konkret, majas, verifikasi, tipografi. Pemilihan kata dalam puisi ini menunjukkan tingkat atau daya imajinasi yang tinggi.

Kata yang digunakan juga menggunakan kata kongkret kendati dalam kata-kata itu mengandung makna yang tidak terduga sebelumnya.

Seperti terlihat pada baris “Tiga anak kecil” kalimat ini sebenarnya mengandung arti tiga tuntutan rakyat yang disuarakan oleh mahasiswa pada saat itu.

Tetapi jika melihat struktur puisi secara keseluruhan memang secara nyata terlihat ada tiga orang anak kecil yang datang melayat dengan membawa karangan bunga.

Kata-kata yang digunakan juga mengacu pada makna yang berbeda dengan makna atau dengan kata lain penyair menggunakan majas yang meng-umpamakan sesuatu.

Rima dalam puisi ini tergolong pada rima bebas yaitu rima yang tidak mengikuti pola persajakan. Ritme puisi ini berbentuk andante yaitu nada yang menimbulkan irama lambat.

Langkah-Langkah Apresiasi

Langkah-langkah sebagai berikut untuk mengapresiasi puisi, terutama pada puisi yang tergolong ‘sulit’ yaitu:

  1. Membaca puisi berulang kali
  2. Melakukan pemenggalan dengan membubuhkan (a) garis miringtunggal (/) jika di tempat tersebut diperlukan tanda baca koma; (b) dua garis miring (//) mewakili tanda baca titik, yaitu jika makna atau pengertian kalimat sudah tercapai.
  3. Melakukan parafrase dengan menyisipkan atau menambahkan kata-kata yang dapat memperjelas maksud kalimat dalam puisi.
  4. Menentukan makna kata/kalimat yang konotatif (jika ada).
  5. Menceritakan kembali isi puisi dengan kata-kata sendiri dalam bentuk prosa.

Berbekal hasil kerja tahapan-tahapan di atas, unsur intrinsik puisi seperti tema, amanat/ pesan, feeling, dan tone dapat digali dengan lebih mudah. Berikut ini diberikan sebuah contoh langkah-langkah menganalisis puisi.

Contoh Apresiasi Puisi
Tahap I: membaca puisi berulang kali
Mata Pisau

(Sapardi Djoko Damono)

Mata pisau itu tak berkejap menatapmu;

kau yang baru saja mengasahnya berpikir: ia tajam untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja sehabis makan malam

Ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu

Tahap II: membaca puisi di atas berulang kali
Mata Pisau(Sapardi Djoko Damono)

Mata pisau itu / tak berkejap menatapmu;//kau yang baru saja mengasahnya /berpikir: // ia tajam untuk mengiris apel /yang tersedia di atas meja/

sehabis makan malam//

ia berkilat/ ketika terbayang olehnya urat lehermu//

Tahapan III: Melakukan parafrase
Mata Pisau

(Sapardi Djoko Damono)

Mata pisau itu / takberkejap menatapmu;//(sehingga)kau yang baru saja mengasahnya/

berpikir: // (bahwa) ia (pisau itu) tajam untuk mengiris ape/yang (sudah) tersedia di atas meja/

Hal) (itu) (akan) (kau) (lakukan) sehabis makan malam//ia (pisau itu) berkilat / ketika terbayang olehnya urat lehermu//

Tahap IV: Menentukan makna konotatif kata/kalimat

Pisau adalah sesuatu yang memiliki dua sisi, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, bisa pula disalahgunakan sehingga menghasilkan sesuat yang buruk, jahat, dan mengerikan.

Apel adalahsejenis buah yang rasanya enak atau sesuatu yang baikdanbermanfaat.

Terbayang olehnya urat lehermu adalah sesuatu yang mengerikan.

Berdasarkan hasil analisis tahap I–IV di atas, maka isi puisi dapat disimpulkan sebagai berikut:

Seseorang terobsesi oleh kilauan mata pisau. Ia bermaksud akan menggunakannya nanti malam untuk mengiris apel. Sayang, sebelum hal itu terlaksana, tiba-tiba terlintas bayangan yang mengerikan. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa jadinya jika mata pisau itu dipakai untuk mengiris urat leher!

Dari pemahaman terhadap isi puisi tersebut, pembaca disadarkan bahwa tajamnya pisau memang dapat digunakan untuk sesuatu yang positif (contohnya mengiris apel). Namun, dapat juga dimanfaatkan untuk hal yang negatif dan mengerikan (digambarkan mengiris urat leher).

Contoh Apresiasi Puisi

Dengan memerhatikan hasil kerja tahap 1 hingga 4, dapat dikemukakan unsur-unsur intrinsik puisi “Mata Pisau” sebagai berikut:

1.Tema : gagasan utama penulis yang dituangkan dalam puisiSuatu hal dapat digunakan untuk kebaikan (hal yang bersifat positif) tetapi sering juga disalahgunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif. Contoh: anggota tubuh, kecerdasan, ilmu dan teknologi, kekuasaan dll.
2.Amanat: Pesan moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembacaHendaknya kita memanfaatkan segala hal yang kita miliki untuk tujuan positif supaya hidup kita punya makna.
3.Feeling:Perasaan/sikap: penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan

Dalam puisi.

Penyair tidak setuju pada tindakan seseorang yang memanfaatkan sesuatu yang dimiliki untuk tujuan-tujuan yang negatif.
4.Nada: Tone dipakai

Penulis dalam mengungkapkan pokok pikiran.

Nada puisi “Mata Pisau” cenderung datar, tidak Nampak luapan emosi penyairnya.
ASMARA DAN TRAGEDI SEMANGGI

Asmaraku tumbuh

Bersama pasta gigi di bawah alis matamu

Desing peluru dan perihnya gas air mata

Lari kau dalam kerumunan tiarapku

Terpesona aku memandangi peluhmu

Asmaraku tumbuh

Bersama bom molotov dan batu-batu berterbangan

Ribuan manusia saling menghujat tak henti

Di mana kau, ketika tentara memukuli anak bangsa?

Takutku datang, kau hilang tak terpandang

Asmaraku tumbuh

Menerobos barikade mencari bayangmu

Cahaya rembulan muncul perlahan

Revolusi lenyapkanjejakmu di gelap malam

Lelahku bersandar pada tameng yang garang

Asmaraku tumbuh

Di mana kau, saat

Bendungan Hilir diam damai

Gerimis sepi saksikan kesendirian kuItu bukan mimpi aku rindu padamu

Oh asmara… ku tunggu kau di bawah jembatan Semanggi

baca:

Melihat dari tahun dan setelah membaca judul serta isi puisi di atas, tema yang terdapat di dalamnya adalah upaya revolusi orde baru.

Dari keempat bait yang terdapat pada puisi tersebut berceritakan tentang demonstrasi. ‘Desing peluru dan perihnya gas air mata//Lari kau dalam kerumunan tiarapku’seperti larik puisi ini, yang menggambarkan suasana demonstrasi pada masa itu.

Asmara pada puisi di atas diibaratkan dengan harapan perjuangan cita-cita revolusi yang akan dicapai. Yaitu, mereka masih berharap untuk bisa melakukan revolusi pemerintahan orde baru yang telah berkuasa terlal ulama.

Bait pertama puisi tersebut menceritakan demonstrasi pada tahun 1998 itu terjadi pada pagi hari. “Bersama pasta gigi di bawah alismatamu//Desing peluru dan perihnya gas air mata’

Bait kedua menceritakan tentang saat terjadi demonstrasi, dimana batu-batu berterbangan. Menggambarkan suasana yang menegangkan.

Namun, ada yang disesalkan oleh penulis, yaitu saat anak bangsa dengan sekuat perjuangannya ingin menyampaikan aspirasi dan dipukuli oleh penegak keamanan, penguasa sebagai pemimpin negara dan saat itu dipilih oleh rakyat tidak berusaha melindungi rakyat yang telah memilihnya melaksanakan amanat rakyat.

‘Di mana kau, ketika tentara memukuli anak bangsa?//Takutku datang, kau hilang tak terpandang’ Bait ketiga dan keempat dalam puisi Asmara dan Semanggi bercerita tentang akhir dari perjuangan demonstrasi pada hari itu, dimana penulis masih merindukan sosok yang bisa mengayomi rakyatnya, dan dia berharap keputusan tentang revolusi itu akan segera terjadi saat diamasih bertahan di bawah jembatan Semanggi. ‘Oh asmara… ku tunggu kaudi bawah jembatan Semanggi’

Amanat yang bisa diambil dari puisi tersebut adalah penguasa tak selamanya bisa berkuasa, mereka yang dipilih oleh rakyat harus bisa menjaga dan melindungi serta mendengar aspirasi, jika hal itu untuk kebaikan. Dan itulah yang dirindukan pada masa itu, atau mungkin juga sampai saat ini.

Demikianlah pembaasan mengenai Contoh Apresiasi Puisi Berdasarkan Struktur Fisik dan Batin Yang Tepat. Semoga bermanfaat.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.